Buku ini dimaksudkan sebagai panduan bagi pengelolah organisasi pendidikan, baik pada level makro, meso dan mikro pendidikan, untuk bisa memahami dan menemukan konsep manajemen pendidikan yang efektif dan komprehensif.
Ada tiga bidang kajian besar yang dikaji dalam ilmu manajemen pendidikan, yaitu manajemen pendidikan, supervisi pendidikan,dan kepemimpinan pendidikan. Hakekat dari kepemimpinan pendidikan adalah seorang pemimpin yang dapat mendidik seluruh seluruh warga Sekolah.
Satu catan penting yang perlu diketahui adalah upaya untuk menjelaskan topik penelitian relasi sosial dalam buku ini telah diarahkan agar sesuai dengan kontesknya. Hal ini merupakan bagian dari upaya menjelaskan serpihan psikologi relasi yang ada di Indonesia.
Evaluasi pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam mempersiapkan salah satu komponen penting dalam mempersiapkan calon guru/dosen dalam mendasari evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan di sekolahmaupun di kampus tempat mengajar.
Sebagaimana kita ketehui, manajemen atau pengelolaan sebuah organisasi sebetulnya berdemensi dua, yaitu dimensi pertama fungsi-fungsi, dan yang kedua adalah pendekatan padaobjek atau sasaran yang dikelolah.
Buku ini disusun pada dasarnya merupakan hasil ujian bertahun-tahunpenulis berdiskusi dengan padadosen dan guru serta mahasiswa melalui perkulihan,melakukan penelitian tindakan kelas bersama dosen/guru dan mendampingi guru-guru melakukan penelitian terutama PTK.
Penelitian tindakan kelas sering disingkat dengan PTK atau Classroom Action Research,masih merupakan hal yang baru dalam pilihan - pilihan epistemologis para peneliti, baik yang dilakukan untuk keperluan menulis skripsi atautesis, maupun para guru atau dosen untuk kebutuhan peningkatan keterampilan mengajarnya.
Buku ini disusun agar para pembaca ( guru, calon guru, praktisi pendidikan ) memiliki wawasan luas tentang model-model pembelajaran. buku ini juga ditujukan agar dapat digunakan bagi semua pihak yang berkeinginan untuk meningkatkan mutu pembelajaran, sehinggah tujuan pendidikan nasional dapat tercapai.
Pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar dan salah, tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan ( habituation ) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan.
Bagi seseorang yang akan melaksanakan konseling perlu mempelajari teorikonseling agar terhindari dari praktek konseling yang pragmatik dan dogmatik.