Sebagai orang Kristen kita menerima iman melalui Gereja, dengan Kitab Suci dan tradisinya. Kitab Suci, (terutama di sini Perjanjian baru yang kami perhatikan), merupakan kesaksian iman Gereja dari jaman tertentu dan dari lingkungan tertentu.
Kitab Daniel memang memanfaatkan pemahaman iman dalam situasi baru. Di saat ilham kenabian seolah-olah mandeg tanpa tan-tangan besar, seperti dialami pada zaman para raja dan masa pem-buangan, maka kini ilham baru itu muncul dengan melihat arus sejarah yang besar. Seperti dalam buku Primbon, Jangka dan sejenis itu, Kitab Daniel memanfaatkan pandangan masa depan untuk dijadikan se-macam peringat…
Buku ini sajikan agar cita-cita Negara dan Gereja terpenuhi.
Bila zaman ini, orang berbicara tentang nabi, berbagai penegrtian bisa muncul dalam angan-anagan. Bayangan itu di antaranya seorang tokoh yang bisa menyuarakan pembaharuan dalam hidup bersama
Jati diri seorang nabi bukan haya dimengerti hanya karena perannya sebagsai pewarta sabda Allah , nabi juga dipahami sebagai seorang yang menghayati sabda Allah itu secara medalam.
Sebagai awal adalah sebuah catatan di sekitar tradisi kenabian. Seorang nabi bukanlah gejala yang muncul begitu saja, kemudian hilang tak berbekas. Munculnya seorang nabi ternyata mempunyai landasan dalam suatu tradisi, bahkan kemudian berkembang juga dalam suatu tradisi.
Bagi manusia Allah selalu tampil paradoks. Ia amat gamblang tetapi tidak pernah dikenal seluruhnya.
Buku ini berbicara tentang keluarga, yang sedang mengalami krisis budaya mendalam sama seperti semua peguyuban dan hubungan-hubungan sosial masyarakat.
Tidak ada pilihan hidup yang bebas dari persoalan. Pilihan hidup membiara juga membawa serta aneka kasus. Karena itu, kualitas hidup membiara tidak dinilai dari banyak sedikitnya masalah yang dihadapi, tetapi bagaimana menghadapi masalah.